ulang tahun itu….

Another true story….

Sore itu menjelang senja ketika sebuah berita kami terima saat kami sedang berleha-leha di kemah. Bahwa nanti selepas maghrib diminta untuk bersama berdoa buat seorang kawan. Aku tidak terlalu memperhatikan pengumuman itu. Saat beranjak keluar menuju toilet untuk berwudhu, maklum disini semua antri…jadi aku memilih berwudhu jauh sebelum waktu sholat tiba, aku bertemu pak Nasihun pimpinan kloter kami dan aku mengkonfirmasi tentang pengumuman tadi. Beliau membenarkan dan mulai bercerita….

Aku sayup-sayup ingat sosok itu….lelaki sedikit gemuk yang kemarin ikut membantu ketika ada seorang jamaah Thailand tersesat ke maktab kami dan aku serahkan ke beliau untuk ditindaklanjuti. Namanya pak Andi, seorang yg sudah cukup lama tinggal disini dan konon keluarganya ada di Bandung.

Sebagai seorang petugas yang sudah paham dengan keadaan rupanya pak Andi telah menyelesaikan rangkaian lempar jumroh lebih dulu, sementara masih banyak jamaah seperti kami masih di tenda di seantero tanah lapang antara Mina dan Muzdalifah. Begitu selesai acara di Mina beliau bergegas melaksanakan thowaf ifadoh dan sai.

Pak Nasihun menghela nafas sebelum menlanjutkan ceritanya…

Pak Andi yang masih berusia 45 tahun saat itu begitu bersemangat melaksanakan thowaf dan bahkan sangat ingin mencium hajar aswad, sehingga dengan susah payah berdesakan diantara lautan manusia akhirnya tercapai juga keinginannya.

Pak Andi yang hari itu tepat berulang tahun….begitu selesai sholat sunat thowaf bilang ke temannya bahwa ia merasa sangat haus dan keduanya kemudian menepi untuk berisitirahat dan sang teman mencarikan zam-zam untuk pak Andi.

Pak Andi merasa tenggorokannya sangat panas dan begitu disodorkan zam-zam maka ia meneguknya banyak-banyak.

Tak ada yang menyangka bahwasanya tiba-tiba dari mulutnya keluar darah segar….sang teman langsung membaringkannya dan dia sendiri cukup kebingungan akan mencari bantuan tapi harus meninggalkan pak Andi sendirian atau menungguinya.

Segalanya berlangsung sangat cepat. Pak Andi semakin kritis dan sang teman paham itu adalah saat Alloh Yang Maha Berkuasa atas umur seseorang sedang mengutus malaikat-Nya untuk menjemput ruh dari hamba-Nya. Di saat itu tak diduga berderinglah telpon di saku pak Andi (beliau sedang thowaf ifadoh, jadi sudah tahalul di mina sehingga hanya memakai pakaian biasa bukan ihrom)…sang teman mengangkatnya dan tanpa ini itu terdengar suara ceria dari seberang sana….”selamat ulang tahun ayah”….rupanya telpon dari anaknya di Indonesia…tak lama kemudian sang ibu juga menimpali dari belakang “selamat ulang tahun pak”….

Tak sepatah katapun keluar dari kerongkongan teman pak Andi. Dengan tangan kanan ia matikan hp itu sementara tangan kiri masih memeluk erat tubuh sang kawan yang telah bersimbah darah. Tak seberapa lama kemudian tempat itu telah menjadi ramai oleh jamaah dan petugas yang kemudian bertindak sebagaimana mestinya.

Terlihat mata pak Nasihun basah ketika meceritakan semuanya…sebasah gerimis yang juga mengguyur perasaanku mendengar cerita itu.

Di depan Ka’bah…ya persis di pelatarannya…seorang hamba dipanggil pemiliknya…dipanggil tatkala persis ia berusia empat lima….dipanggil tatkala anaknya semata wayang mengucapkan selamat untuknya….

Aku tidak tahu harus bilang apa….segera setelah berpamitan ke Pak Nasihun aku teruskan kaki menuju tempat wudhu.

Ya Alloh…Dzat Yang Maha Menguasai Ilmu…pahamkan akan hikmah atas kejadian ini….

Terangilah kebingunganku…diantara keprihatinan dan kesedihan yang mendera atas drama ini…Engkaukah yang berkenan memanggilnya dengan kasih sayang-Mu untuk segera menunaikan janji-Mu akan surga bagi mereka yang telah melaksanakan perintah-Mu…

Tapi…kenapa ya Alloh…kenapa di waktu itu…

Di waktu ulang tahun itu….

——————————————————————

Sajadah menjadi basah di maghrib ini ketika ia membalut sembab di mata kami….

Angin lembah di Muzdalifah yang mendingin tidak mampu mengusir sebuah kepedihan…

Ampuni kami Ya Alloh…bahwa kami tidak seperti Khidir yang Engkau karunia kepahaman..

Kami hamba-Mu….berpasrah diri kepada semua kehendak-Mu….

Dari note facebook pak Sarju